Lama tak kemana-mana menjenuhkan juga, hanya sibuk dengan rutinitas membuat hati dan pikiran tak peka. Lambat memberikan response,terbelenggu dan terkungkung dalam kehidupan yang semakin absurd.
Kembali diturunkannya ransel hitamnya, diisi dengan beberapa kaos oblong dan tak ketinggalan kain sarung. Dikenakannya celana panjang berwarna biru washing atau lebih dikenal dengan belel.
Kaos hitam kesukaannya tak lupa dikenakan dan dibalut dengan jaket yang berwarna hitam juga, kaos kaki biru dongker dan sepatu hitam tak lupa dipakainya. Semua serba gelap, mungkin ikut berduka atas kekisruhan yang melanda negeri ini.
Bukan hanya kekacauan ditingkat rakyat bawah saja dengan seringnya tawuran antar warga dan antar suku, bahkan sekarang antar lembaga negara yang nota bene penegak hukum saling memangsa, saling gigit demi kekuasaan. Rakyat hanya menonton saja, tapi mungkin pepatah gajah bertarung pelandung mati ditengah-tengah berlaku.
Dicangklongnya ransel hitam itu dipundak kanan, diayunkan langkahnya menuju jalan raya, penat dan suntuk ingin diusirnya dengan pergi ke batas kota untuk melihat sawah dan sungai serta berkunjung kerumah seorang kawan. Aroma alam selalu menyegarkan dan mengusir kepenatan.















