Setelah Pesta Usai

Setelah Pesta Usai
Tenda Biru Itu Lengang
Hadirin telah pulang
Sebagian menggerutu tak kebagian
Sebagian lain mengelus perut kenyang
Setelah Pesta Usai
Pasangan Masuk Kekamar
Hilang sudah hingar bingar
Hanya Memandang langit dan terkapar
Ayo sana Mandi kembang 7 rupa biar Segar
Setelah Pesta usai
Apa yang akan terjadi ?
Masih ingatkah akan janji Untuk Sehidup Semati?
Atau Hanya dimulut dan tak masuk ke hati ?
Ah aku tak mengerti, hanya menanti
Setelah Pesta Usai
Sekarang saatnya menghitung biaya
Berapa buat make up dan wibawa
Juga hitung ongkos berpesta
Jangan lupa biaya undangan di Media
Setelah Pesta Usai
Ada yang teriak aku kan ikut iuran,masak tidak ada balikan
Ada yang bisik-bisik wah kita dapat kipas angin apa setrikaan
Ada yang diam, ya cuma diam tapi ternyata ngambil amplopan
Ya Pesta Telah usai
Tinggal Menunggu Buah Cinta
Semoga saja perkasa
Atau “berdiri” saja tidak bisa ?

Setelah Pesta Usai

Tenda Biru Itu Lengang

Hadirin telah pulang

Sebagian menggerutu tak kebagian

Sebagian lain mengelus perut kenyang

Setelah Pesta Usai

Pasangan Masuk Kekamar

Hilang sudah hingar bingar

Hanya Memandang langit dan terkapar

Ayo sana Mandi kembang 7 rupa biar Segar

Setelah Pesta usai

Apa yang akan terjadi ?

Masih ingatkah akan janji Untuk Sehidup Semati?

Atau Hanya dimulut dan tak masuk ke hati ?

Ah aku tak mengerti, hanya menanti

Setelah Pesta Usai

Sekarang saatnya menghitung biaya

Berapa buat make up dan wibawa

Juga hitung ongkos berpesta

Jangan lupa biaya undangan di Media

Setelah Pesta Usai

Ada yang teriak aku kan ikut iuran, masak tidak ada balikan

Ada yang bisik-bisik wah kita dapat kipas angin apa setrikaan

Ada yang diam, ya cuma diam tapi ternyata ngambil amplopan

Ya Pesta Telah usai

Tinggal Menunggu Buah Cinta

Semoga saja perkasa

Atau “berdiri” saja tidak bisa ?

Nyontreng

selamat menyontreng bagi yang menjalankan.

Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya
Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi syairnya
Ingat, ingat ingat ingat, cuman ingat kuncinya
Ingat, aku ingat ingat, cuman ingat kuncinya

Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi  Janjinya

Lupa, lupa lupa lupa, lupa lagi janjinya

Ingat, ingat ingat ingat, cuman ingat kroninya

Ingat,dia ingat ingat, cuman ingat kroninya

Leren

Ngaso kanggo nguatne rogo

Semedi  marai  kuat ati

Iba

Mungkin sudah jadi sifat manusia -indonesia- untuk  bersimpati dan iba kepada seseorang atau mungkin ini hasil doktrinasi dari sinetron dan acara televisi yang sering mengumbar tangis dan mengeksploitasi kesedihan.

Beberapa kejadian membuktikan hal tersebut, karena di ekspos “perjuangannya” untuk ikut salah satu kontes, Veri mendapat simpati dan kiriman SMS terbanyak hingga akhirnya menang.

Tidak beda jauh dengan ikhsan dan aris seorang idol dari acara pencarian bakat, meski memang mempunyai kemampuan yang cukup, ekspos tentang “kesusahan” sedikit banyak meningkatkan  perolehan “suara”nya.

Ternyata kejadian itu tidak hanya di ranah hiburan saja, akan tetapi sudah merambah ke dunia politik.  Mari kita flasback sejarah perpolitikan kita. Saat orde baru bagaimana bu Lastri  dikuyo-kuyo oleh penguasa.

Setelah sang lurah orba jatuh perolehan suara partainya bu lastri naik begitu tajam bahkan mengalahkan partai nya penguasa. Pada perjalanannya perolehan partai kebo giro itu terus melorot dan merosot.

Selanjutnya kawan tentu masih ingat bagaimana pak Yono di beritakan terus menerus mendapat “pendzaliman” dari bu Lastri dan suaminya yang saat itu berkuasa, hingga mundur dari jabatannya, kepala satpam. Kemudian pak Yono ikut pilihan lurah dan menang di tahun 2004.

Dan pak Yono mungkin tahu benar karakteristik pemilih, sehingga saat kampanye untuk pencalonannya yang ke 2, pak Yono mengemukakan kalau dia dikeroyok oleh kompetitornya, mengeluh kalau dihantam oleh 2 calon lain.

Selain mempunyai sifak iba alias mesakne, karakter orang kita tidak suka sama orang yang ambisi. Pemilih lebih seneng melihat calon yang kalem dan tidak ambisi padahal sebenarnya menyimpan ambisi.

Bukankah sifat begitu lebih membahayakan ? pura-pura menyimpan dalam-dalam ambisi, dan menampilkan sosok tenang.

Kampanye

Lawang Tengah Kayu Jati
Menang kalah ikut bu Lastri
buah pepaya enaknya untuk rujakan
ingin bahagia pilih Lanjut Gan
Burung tekukur matuk ketupat
mau makmur contreng yg lebih cepat
Bunga seikat hati tertarik,
lebih cepat lebih baik
baju merah,beli di kertosono
mau BBM murah,jangan lupa pilih pak Yono
pagi hari sarapan,makan daging bistik
kalau mau pekerjaan, contreng partainya wong cilik

Lawang Tengah Kayu Jati

Menang kalah ikut bu Lastri


buah pepaya enaknya untuk rujakan

ingin bahagia pilih Lanjut Gan


Burung tekukur matuk ketupat

mau makmur contreng yg lebih cepat


Bunga seikat hati tertarik,

lebih cepat lebih baik


baju merah,beli di kertosono

mau BBM murah,jangan lupa pilih pak Yono


pagi hari sarapan,makan daging bistik

kalau mau pekerjaan, contreng partainya wong cilik

Berjuang

Wah ini lagi rame ngomong berjuang, begitu katanya.

Ada yang bilang membela wong cilik, berarti tidak membela dirinya dan keluarganya. la mereka itu kan Wong besar bukan wong cilik, 93Kg keatas je.

Ada yang cerita lebih cepat lebih baik, lah cepat untuk siapa dan baik kanggo sopo ? cepat bagi kaum kerabat serta baik bagi kelompok nya ?

Juga ada yang teriak-teriak lanjutkan, apanya yang dilanjutkan? privatisasi 32 BUMN mau dilanjutkan ? atau utangnya yang semakin dilanjut dan digedein? ya mbohlah sebenarnya apa yang dilanjutkan.

Kabeh eh Semua bilang demi rakyat, rakyate sopo ? atau keluarga,kroni dan kelompokmu kuwi rakyat ? liyane yo ga ngerti,sekedar buruh , jongos atau mainan.

Ayo berjuang, berjuang. Berjuang iku BERas baJU dan uANG. semua bagi-bagi berjuang, rakyat diajak eh disuruh eh dikasih berjuang  untuk memilihnya.

untuk Kabeh semuanya, mohon maaf tidak bermaksud untuk mengajak Golput tapi saya mau Tidak Memilih Saja.

Tabik Tuan,

Saridin.

Yu Sutinem

Goncangan bus yang menderu diatas jalan berlubang dan tidak rata membuat pria itu terbangun, dikucek kucek matanya dan diarahkan keluar dari bus. Panas begitu menyengat, sangat terasa dari bus ekonomi itu.

Untunglah hamparan sawah yang membentang sedikit memberikan pemandangan yang menyejukkan, meski entah berapa tahun lagi sawah itu akan bertahan karena sudah terpancang patok untuk dibangun pabrik.

Bus terus melaju meninggalkan debu yang berterbangan, ditambah dengan asap knalpot yang hitam pekat menimbulkan kolaborasi yang akut untuk polusi udara. Jika sawah dan pohon pohon hilang apalagi yang akan menyegarkan bumi dari polusi? 

Sudah 3 jam pria itu terguncang dalam bus ekonomi itu,  dari cilacap perjalanan tadi dimulai  hingga saat ini sudah melewati wates dan sebentar lagi masuk ke yogya,  dan masih akan berlanjut ke gunung kidul. 

Read More…

Hari Ini 5 Sila itu tercetus

Garuda bukan burung perkutut. Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan pancasila itu. Bukanlah rumus kode buntut
Yang hanya berisi harapan.  Yang hanya berisi khayalan (Bangunlah Putra Putri Pertiwi  – Iwan Fals)

Hari ini 64 tahun yang lalu Soekarno mencetuskan ide pancasila yaitu :

1.   Kebangsaan Indonesia

2.   Internasionalisme atau perikemanusiaan

3.   Mufakat atau demokrasi

4.   Kesejahteraan sosial.

5. Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Semangat yang dibangun dulu adalah untuk dasar dan pijakan dasar bangsa ini untuk membangun negara.

Saat ini masihkah pancasila sebagai dasar atau hanya sekedar hafalan? atau bahkan hanya sebuah alasan untuk penguatan ideologi rezim ?

Mari kita renungkan ulang.

Gusti Allah Ora Sare

Matahari sudah mulai hilang dari ufuk barat, kira-kira sepeminuman teh yang lalu, cahaya  jingga di cakrawala menghilang. Gelap semakin membungkus bumi, kelam semakin membuat  malam semakin hitam tanpa cahaya.

Mendung menyelimuti bulan, menghalangi sinarnya meneduhkan bumi. Bintang gemintang pun seperti malas untuk menampakkan hidung. malam semakin kelam saja.

Petir mulai menyambar, menjilati bumi.menampilkan garis terang dan diakhiri dengan suara dentum geledek, keras dan menggetarkan hati.  Suasana yang membuat orang semakin malas untuk keluar rumah, lebih baik dirumah menikmati secangkir teh hangat.

Gerimis Mulai menyiram bumi, membasahi tanah dan mengusir debu jalan ketika seorang laki-laki muda menerobos malam, mempercepat jalannya dan mulai setengah berlari, ransel yang digendongnya bergoyang mengikuti gerak tubuhnya.

Read More…

Rumahku

siluet2Aku membangun rumahku dengan langkah, sejauh aku melangkah sejauh itu pula rumahku didirikan, tembok kepedulian aku bangun dengan rasa, transparan dan imajiner. karena aku adalah bagian dari mereka dan mereka sebenarnya adalah aku.

Rumahku tidak berpintu, apalagi berpagar tinggi dari besi. Siapa saja boleh masuk dan menikmatinya. Bermain di halaman belakang rumahku yang rimba serta pegunungan, atau cuma hendak bermain air dan berenang di sungai berair jernih sambil menangkap ikan.

Terminal, Stasiun dan pelabuhan adalah garasiku, Yang setia mengantar langkahku untuk belajar pada universitas kehidupan, dengan milyaran dosen. Karakteristik dosen sungguh beragam, ada yang setiap hari ujian bahkan ada yang sama sekali tidak pernah ujian. Universitasku tidak pernah mengeluarkan ijazah cuma berbagi ilmu hikmah.

satu ruangan besar disediakan untuk menonton,televisiku flat dan sangat lebar. selebar mata memandang. Semua film tersedia disini, bahkan kau bisa melihat film tentang dirimu sendiri diputar.

Atap berwarna biru muda terbentang, digelantungi oleh bintang gemintang sebagai pencahayaan.  Terang dan menenangkan.