Yu Sutinem

Goncangan bus yang menderu diatas jalan berlubang dan tidak rata membuat pria itu terbangun, dikucek kucek matanya dan diarahkan keluar dari bus. Panas begitu menyengat, sangat terasa dari bus ekonomi itu.

Untunglah hamparan sawah yang membentang sedikit memberikan pemandangan yang menyejukkan, meski entah berapa tahun lagi sawah itu akan bertahan karena sudah terpancang patok untuk dibangun pabrik.

Bus terus melaju meninggalkan debu yang berterbangan, ditambah dengan asap knalpot yang hitam pekat menimbulkan kolaborasi yang akut untuk polusi udara. Jika sawah dan pohon pohon hilang apalagi yang akan menyegarkan bumi dari polusi? 

Sudah 3 jam pria itu terguncang dalam bus ekonomi itu,  dari cilacap perjalanan tadi dimulai  hingga saat ini sudah melewati wates dan sebentar lagi masuk ke yogya,  dan masih akan berlanjut ke gunung kidul. 

Sampai di Desa Gedangrejo pria itu turun dari pick up yang ditumpanginya dari kota kecamatan yang jaraknya sekitar 32 KM.  Diseretnya ransel hitamnya yang mulai dekil dan berdebu, sudah ratusan kilometer  ransel itu menemaninya.

Pria itu mampir ke sebuah warung untuk melepas lelah, secangkir kopi dipesan. Dikeluarkannya sebungkus rokok dan geretannya, diambilnya sebatang kemudian diselipkan ujung dibibir kanan dan disulutnya.  

Pria itu menyebut nama seseorang dan menanyakan rumahnya, pemilik warung pun memberikan “ancer ancer”  posisi rumah yanto, pria yang ditanyakannya tadi.  

Tepat sekali perkataan yanto saat mengirimkan sebuah jawaban  pesan singkat kemana aku menjumpainya, ” tanyakan pada orang kampung, kami saling mengenal”.

Yah suasana pergaulan dikampung memang dahsyat, mereka saling mengenal, bukan saja dalam 1 kampung bahkan hampir 1 desa mereka kenal. Padahal luas desa hampir 25 km2, mereka hafal benar tiap rumah berisi siapa saja dari simbah, simbok sampai cucu.

Untuk sampai ke rumah yanto masih butuh 30 menit lagi dengan berjalan kaki atau setara 2 km. Setelah membayar kopi pria itu berjalan menuju arah yang disebutkan penjual kopi tadi, ke arah tenggara.

Kembali di seretnya ransel hitamnya, langkahnya dipercepat karena hari mulai sore, targetnya sebelum bedug maghrib dia sudah sampai dirumah yanto. Menikmati sore di kampung memang begitu segar, kebun palawija menghampar, bau tanah yang wangi serta anak-anak yang berlarian di sawah merupakan vitamin bagi jiwa.

Mentari sore memancarkan sinar jingga menerobos pucuk daun waru yang berderet dipinggir jalan yang dilaluinya, sesekali kerikil sebesar biji kelereng tertendang ujung sandal gunungnya yang sudah mulai diselimuti debu jalanan. Dua belokan lagi pria itu akan sampai kerumah yanto 1 kekiri dan 1 belokan kekanan.

Dengan mantap diketuknya  pintu sebuah rumah yang lumayan besar, dindingnya terbuat dari kayu khas rumah jawa. Diucapkannya salam “Assalamualaikum sugeng Sonten.” 

“Waalaikumsalam” terdengar balasan dari dalam rumah.

Pintu dibuka dan muncullah sosok yang begitu dia kenal, tidak berubah meski bertahun-tahun tak berjumpa. “Sampai juga kau di tempatku kawan” begitu kata yanto sambil memeluk.

Yanto pun mengajaknya  masuk ke sebuah kamar, “taruhlah tasmu, dan mandilah kawan biar kau lebih segar”. 

Setelah selesai mandi pria itu membongkar ranselnya untuk berganti pakaian yang bersih, kemudian disisirnya rambut dengan jari tanganya. Sayup sayup  terdengar suara bedug ditabuh disusul dengan suara adzan.

Pria itu terdiam, jiwanya bergetar.”Sudah cukup lama aku tidak bersujud kepada MU Tuhan” ucapnya dalam hati. Diambilnya kain sarung dan menghadap kiblat kemudian melakukan takbir tanda penyerahan, pemasrahan diri terhadap sang kuasa.

Jam dinding menunjukkan pukul 18.30 saat pria itu dan yanto berbincang di ruang tamu, 4 tiang terpancang kokoh, atap dari genteng dan beralaskan plester. 4 kursi dari jati mengitari sebuah meja bundar yang diatasnya tersaji kopi panas dan pisang goreng.

Yanto sekarang berkerja disebuah BPR syariah, sudah 3 tahun dia mengabdi disana. Saat asyik berbicara tiba-tiba terdengar salam dari luar, kemudian masuklah seorang ibu yang kira-kira berumur 50an tahun, orang di situ biasa memanggilnya yu Sutinem. Yu Sutinem tinggal tidak jauh dari rumah yanto, disebuah rumah yang terbuat dari anyaman bambu, itu juga hasil gotong royong warga. 

Yu sutinem tinggal sendirian di rumah itu, dia kerja serabutan untuk menyambung hidup. Yang patut ditiru adalah semangat yu tinem untuk menabung, meski hidup pas pasan yu tinem membiasakan diri untuk menabung, tidak banyak memang yang ditabung. Biasanya yu tinem menabung Rp. 50.000,- tiap bulan, tabungan itu disetor lewat yanto. Malu begitu kata yu tinem ketika ditanya kenapa dititipkan yanto.

Malam itu yu tinem datang kerumah yanto untuk mengutarakan niatnya mengambil uang, selain menyetor yu tinem juga mengambil uang lewat yanto.” Iya yu, besok ya tak ambilkan” kata yanto.

“Berapa yu ?” tanya yanto 

“Rp.650.000,- mas yanto” 

“Lo kok diambil semuanya yu ?” 

“Iya mas, mau buat beli kambing Qurban”

Pria itu dan yanto sama-sama terperanjat, terkelu mendengar niatan yu tinem.

“Yu tinem kan belum wajib berkorban, malah berhak mendapat Qurban”

“Mas, saya pengen paling tidak sekali seumur hidup saya bisa Qurban mas”

“Besok akan saya ambilkan yu”. Yu tinem pun pamit undur diri.

Yanto dan pria itu menunduk dalam-dalam, merasa mendapatkan satu pelajaran tentang arti pengorbanan dari yu tinem yang cuma lulusan SD.

 

 

19 Comments

  1. :)

    -:Mal::- :) juga

  2. Salam kenal ya…

    Jadi malu nih baca postingannya, hbs gak pernah bs nabung, biasa…cewek kan bnyk bngt godaannya.
    Janji deh…mo nyonto Yu Sutinem stlh bc ini, tp nabungnya nitip Mas Yanto bisa nggak ya?

    -::mal::-
    Salam kenal juga,
    kalau ga bisa ke mas yanto nitip saya gpp kok, tapi ga jamin balik utuh :D

  3. hai, mal. banyak berjalan banyak yang dilihat, banyak pula yang dipelajari.
    kali ini kita belajar dari seorang wanita sederhana yang ikhlas dan tidak ragu mengenai makna pengorbanan.

    -::Mal::-
    iya uni, bukan siapa tapi apa. semoga kita meneladani sifatnya.

  4. Huhu… Pas bgt… Hari ini aq buka rekening dibank… Akhirnya,punya tabungan sendiri jg.hehe Semoga bermanfaat… :-D

    -::Mal::-
    Semoga ada yg disisihkan ..

    • Harus ada nu! Ngece ki,ngerti yn aq boros… Lg belajar nyisihne ki lho.Disemangati to ya…

  5. satu kata: hebat.
    kisah ini jelas menginspirasi. tentang bagaimana kita diingatkan untuk selalu merasa kaya

    btw, terimaksih sdh mengunjungi rumah saya.
    salam kenal.. :)

    -::Mal::-
    Salam Kenal
    Semoga saja tambah syukur

  6. subhanallah si yu tinem….
    kok kadang2 malah orang2 seperti yu tinem yang ’sadar’ duluan ya…

    -::Mal::-
    iya Yo orang seperti kita masih pingsan ya yo? :D
    semoga dibuka mata hati kita.

  7. Yu tinem tuh perlu dicontoh Om…

    Andai semua orang tau rahasia berkorban…

    -::mal::-
    Ya desya seandainya tahu.

  8. aku membayangkan wajah damai Yu Sutinem ketika mengutarakan niatnya itu…hmmm indah sekali..lebih indah dari purnama di atas sana…

    eh,,belum purnama ya sekarang? :D

    -::Mal::-
    Bayanginnya sambil ngaca ya mbak ? hehehehhehe
    sekarang belum purnama baru purwanto xixixiix

  9. Segala sesuatu yang keluar dari hati nurani yang terdalam akan menggetarkan perasaan orang di sekitarnya.. itulah keajaiban HATI.. sungguh hati ini satu ukuran yang jelas.. membuat kita tertarik keras… oleh tarikan CINTA dari Sang Maha Pencinta
    Salam Sayang

  10. mbahhh… ga bisa tidur lagi )=
    *komen nyampah. males serius2*

  11. pergaulan dikampung memang masih sangat erat dari pada perkampungan di daerah perkotaan . . .. . kadang 1 rt. saya nggak kenal

    -::mal::-
    bener mas noer, aku kangen suasana itu

  12. Tiap kali saya ke sini selalu saja da pelajaran berharga yang bisa saya petik.
    Thank u mas

    -::mal::-
    u r welcome, nanti dihitung per SKS yah :D

  13. [...] Mas Jamal [...]

    -::mal::-
    ya mbak ….

  14. semuanya harus di contoh
    yg perlu di contoh siapa ya????????????

    -::Mal::-
    COntoh yg patut dicontoh mas :D

  15. mantap mbulll……cuman tu ajah…hehehehe

    -::Mal::-
    Maknyusss hehehehhe

  16. korban perasaan, aku seringe itu, Om. :D
    piye coba ?

    -::Mal::-
    “aku ini masih punya perasaan, sama seperti dirimu”
    *nyanyidangdut*
    paling tidak tetep korban :D

  17. ThQ Mal ….
    Kamu menggoyahkan pikiranku untuk membeli handphone baru :)

    -::Mal::-
    Kalau goyah mo beli HP, mending beliin aku HP masti yakin dan pasti :D

  18. [...] Mas Jamal [...]


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment