Absurd

Lama tak kemana-mana menjenuhkan juga, hanya sibuk dengan rutinitas membuat hati dan pikiran tak peka. Lambat memberikan response,terbelenggu dan terkungkung dalam kehidupan yang semakin absurd.

Kembali diturunkannya ransel hitamnya, diisi dengan beberapa kaos oblong dan tak ketinggalan kain sarung. Dikenakannya celana panjang berwarna biru washing atau lebih dikenal dengan belel.

Kaos hitam kesukaannya tak lupa dikenakan dan dibalut dengan jaket yang berwarna hitam juga, kaos kaki biru dongker dan sepatu hitam tak lupa dipakainya. Semua serba gelap, mungkin ikut berduka atas kekisruhan yang melanda negeri ini.

Bukan hanya kekacauan ditingkat rakyat bawah saja dengan seringnya tawuran antar warga dan antar suku, bahkan sekarang antar lembaga negara yang nota bene penegak hukum saling memangsa, saling gigit demi kekuasaan. Rakyat hanya menonton saja, tapi mungkin  pepatah gajah bertarung pelandung mati ditengah-tengah berlaku.

Dicangklongnya ransel hitam itu dipundak kanan, diayunkan langkahnya menuju jalan raya, penat dan suntuk ingin diusirnya dengan pergi ke batas kota untuk melihat sawah dan sungai serta berkunjung kerumah seorang kawan. Aroma alam selalu menyegarkan dan mengusir kepenatan.

Untuk ke tempat tujuan perlu 2 kali ganti kendaraan, naik angkot ke terminal dan dari terminal naik bus jurusan batas kota.  Jalan ke terminal begitu padat, mobil pribadi dan angkutan umum serta sepeda motor berebut jalan, saling membunyikan klakson, bising.

Kata berita negeri ini dalam kondisi yang tidak baik dalam hal ekonomi, tapi dijalanan mobil baru dan mewah semakin banyak bersliweran, dijalanan yang tidak semakin lebar, malah semakin sempit dengan sparator busway.  Mungkin benar istilah yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin, karena realita mobil-mobil terus bertambah dan rakyat yang susah makan juga bertambah. Absurd.

Masuk ke terminal suasana semakin semrawut saja, teriakan kenek, kondektur plus calo terdengar dimana-mana, tangisan bayi yang dibawa ibunya untuk mengemis semakin kencang karena panas.  pengemis kecil anak usia SD pun tak kalah hebat berperilaku, mengejar kemanapun calon ‘korbannya’ dan cenderung mengganggu.

Masih teringat sebuah Perda yang melarang memberi uang kepada pengemis, tetapi para fakir itu tidak diberikan apapun, ibarat kata jika tidak memberi ikan maka berilah kailnya. Biar mereka memancing rezekinya. Akan tetapi susah juga, karena pengemis itu merupakan profesi bagi mereka.

Masih terngiang kata-kata seorang pengemis diwaktu lalu, pendapatan perhari saat Sepi ‘Cuma’ Rp.35.000,-  jadi  1 bulan kira 1 juta lebih sedikit, sama dengan gaji para buruh dg UMR propinsi DKI Jakarta, perlu diingat itu minimal. Fakta tersebut tentu memicu orang lain untuk ikut-ikut berprofesi sebagai pengemis.

Dengan tas tetap dicangklong dibahu kanan, pemuda itu terus melangkah menuju tempat bus 027 jurusan Batas Kota ‘ngetem’ diterminal. Dengan segera ia naik dan mencari tempat duduk yang kosong. Tinggal 4 tempat duduk yang kosong, 50 lainnya sudah terisi penumpang. 1 kursi didekat sopir, 1 kursi dekat pintu masuk depan 1 diujung paling belakang dan 1 kursi depan pintu masuk belakang.

Pemuda itu memilih 1 kursi didepan pintu masuk belakang dekat jendela, agar bias melihat para penumpang dan melihat jalan. 5 menit menunggu bus terisi penuh dan sopir pun mulai menyalakan mesin dan bus pun merayap perlahan. Bus itu sudah terlihat sangat berumur, bahkan cenderung tidak laik jalan.

Besi yang mulai berkarat dan kursi yang sobek dan mesin yang terdengar berat serta asap knalpot yang hitam pekat mengindikasikan bus itu minta diregenerasi. Terlihat seperti kotak rongsokan yang berjalan. Di negeri ini tidak ada pembatasan umur kendaraan, sehingga asal masih bisa jalan diperbolehkan.

10 menit berjalan, berarti kira-kira kurang 55 menit lagi sampai di Batas Kota. Tiba-tiba bus berhenti, seorang ibu yang kira-kira berumur 50 tahun naik dari pintu depan. Ibu itu tengok kanan kiri mencari kursi yang kosong. Tak seorangpun memberikan kursinya kepada ibu itu. Sebagian pura-pura tidur sebagian lagi pura-pura melihat keluar dan sebagian lagi acuh tak acuh. Semakin parah saja moral dan mental bangsa ini.

Pemuda itu akhirnya mengangkat tangan dan melambai kepada ibu itu, tempat duduknya diberikan kepada ibu tersebut. Tas yang tadi sempat diletakkan di bawah kembali ia cangklong, meski tidak ada benda yang berharga– selain tas itu sendiri tentunya yang sudah menemani perjalanannya menelusuri lorong-lorong labirin kehidupan–, cukup riskan menaruh barang di bus kota tanpa pengawasan yang ketat.

Kondektur berjalan menarik ongkos, pengamen menyanyikan lagu dengan irama seadanya. Penjual asongan menawarkan minum serta jajan serta seorang yang mengaku dari yayasan minta sumbangan untuk pembangunan ibadah bergantian mengisi waktu dalam perjalanan bus, sambung menyambung menjadi satu.

Seorang bapak menyalakan rokok, asap pun mengepul memenuhi bus, bau asap rokok mengakibatkan semua penumpang mengarahkan pandangan pada bapak itu. Semua seolah sepakat untuk menatap menghakimi seolah berkata “Jangan Merokok di tempat umum” atau mungkin “Silahkan merokok tapi jangan keluar asap”. Bapak itu pun bersegera menjatuhkan rokok dan menginjaknya dengan sepatu.

1 jam sudah bus melaju, berarti sudah dekat dengan tempat tujuan. Setelah melewati sebuah pasar becek dan jembatan sampailah pemuda itu ketempat tujuannya. Ia berhenti tepat disebuah jalan masuk kekampung yang kanan kirinya terhampar sawah menghijau. Suara gemercik sungai kecil dan  desiran angin diujung daun bagai harmoni alam, kicau burung semakin menambah keindahan orkestra sawah.

Pemuda itu tidak langsung berjalan, tapi diam merenggangkan kali, membuka dan melebarkan tangannya kemudian menghirup dalam-dalam udara, memenuhi paru-parunya dengan oksigen dari udara segar, yang tak dapat ditemui di kota. Wajahnya begitu sumringah, sudah cukup lama ia tak menikmati ketenangan dan kesegaran seperti itu.

Setelah puas, pemuda itu melanjutkan perjalanannya. Hamparan sawah dan semilir angin menemani langkahnya, tegas dan tidak ada keraguan. 20 menit perjalanan sampailah ia disebuah surau kecil, bergegas pemuda itu mensucikan diri dan bersujud kepadaNYA. Bersukur banyak sekali kenikmatan yang telah diterimanya.

Selesai ibadah, pemuda itu duduk didepan surau. Suasana begitu tenang jauh dari kebisingan, yang nampak hanya kedamaian, yang terasa hanya ketentraman. Dalam duduknya ia menunggu seorang kawan, setiap sore kawannya itu pulang dari sawah yang luasnya tidak seberapa sebagai sampingan dari profesi utamanya yaitu guru honorer sebuah SD yang gajinya jauh dari UMR.

11 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah penantian pengangkatan jabatan. Dengan Rp.300.000,- anto –demikian nama guru itu- mencoba untuk bertahan, meski kadang harus nombok. Maka dari itu setiap pulang mengajar dia menggarap sawahnya untuk tambah-tambah biaya hidup.

Kira-kira 5 menit menunggu nampak sosok yang begitu dikenalnya, seorang kawan yang menyenangkan dan selalu bersemangat. Tak nampak awan gelap menyelimuti wajahnya, yang ada hanya keceriaan dan cahaya terang yang muncul dari kepribadiannya. Bergegas dihampirinya dan dipeluknya dengan erat sosok tersebut.

“Sudah lama kau disini kawan ?” tanya anto

“Ah baru 5 menit yang lalu aku duduk menantimu lewat to.”

“Ayo kita kerumah”

Beriringan mereka berjalan menuju rumah anto, anto tinggal diujung jalan kampung itu dekat dengan kebon dan sungai yang berarus cukup deras dan berair jernih. 10 menit berjalan sampailah mereka dirumah anto. Rumah yang begitu sederhana, hampir semua bagian rumah terdiri dari kayu. Yang membuat nyaman adalah halamannya cukup luas dan ditanami berbagai pohon-pohonan.

“Mandi lah sana kau kawan” suruh anto.

“Kau dulu sana, badan kau lebih bau”

Bergantian keduanya mandi dan berganti pakaian,  tak lama berselang adzan maghrib terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Memanggil hamba untuk bertemu dan berkomunikasi dengan penciptanya. Mereka pun berjamaah, anto menjadi imamnya. Suara anto memang merdu ditambah dengan pelafalan yang jelas dan tajwid dan makhroj yang tepat membuat bacaannya enak didengar, ini juga yang membuat pemuda itu kangen ketempat anto.

Selesai sembahyang mereka duduk didepan rumah, cahaya dari lampu bohlam 20 watt cukup mampu menerangi sekitar. Cahaya bulan separo dan kerlap-kerlip bintang berpadu dengan suara jangkrik dan nyanyian kumbang pohon menambah malam semakin indah. Kepulan uap air dari teh panas dan pisang goreng sepertinya akan membuat malam akan sangat panjang.

“Bagaimana mengajarmu nto ?”

“Ah, mungkin tak lama lagi akan berhenti kawan.”

“Aha..ada apa dengan sekolahmu nto?”

“SD tempatku mengajar hampir ambruk, atap sudah banyak yang bocor karena gentengnya entah kemana.”

“Belum lagi kayu penyangga sudah mulai lapuk, ruangan kelas 1 saja sudah miring” lanjut anto.

“Loh, kenapa tidak minta anggaran perbaikan nto, bukankah anggaran pendidikan sudah dinaikkan 20% ?”

“Anggaran sudah diajukan setahun yang lalu, tapi sampai sekarang belum juga dana itu turun.”

“Malah bulan ini pegawai Dinas Pendidikan akan study banding keluar negeri.” Sambung anto.

“ Ah, semakin absurd saja negeri ini, kota ini tidak jauh dari ibu kota, namun kondisi pendidikannya begitu memprihatinkan. Aku membayangkan daerah yang jauh dari kota.”

Mereka melanjutkan obrolan sampai larut malam, dari yang ringan sampai berat dari a sampai z.  Tak terasa tengah malam terlewati, pagi hampir tiba. Saatnya pejamkan mata.

4 Comments

  1. lg kacau… :-( jd,no coment dech… hmm…bner2 absurd…

  2. pemuda yang sudah tidak lagi muda….memang absurd….???!!!!

  3. Gaji guru 300.000 sebulan masih lumayan, Mas Jamal. Di tempat saya, masih ada yang cuma 150.000 sebulan.

    Selalu saja ada ketimpangan di kehidupan dunia ini. Untuk itulah, kita menjalani hidup agar menata kembali ketimpangan yang ada semampu mungkin, sehingga meminimalkan absurditas.

  4. Yah begitulah Om…
    Soal pengemis, kemaren desya nonton acara uya emang kuya, ada pengemis yg dihipnotis gt, katanya sehari dapet 200 rb, kalau sepi dapet 100rb, ternyata anak yg dibawa juga sewa. Trus dia jg gag mo berhenti jadi pengemis karena jd pengemis banyak uang, katanya lg dia gag miskin. Jadi bingung juga


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment