Mungkin sudah jadi sifat manusia -indonesia- untuk bersimpati dan iba kepada seseorang atau mungkin ini hasil doktrinasi dari sinetron dan acara televisi yang sering mengumbar tangis dan mengeksploitasi kesedihan.
Beberapa kejadian membuktikan hal tersebut, karena di ekspos “perjuangannya” untuk ikut salah satu kontes, Veri mendapat simpati dan kiriman SMS terbanyak hingga akhirnya menang.
Tidak beda jauh dengan ikhsan dan aris seorang idol dari acara pencarian bakat, meski memang mempunyai kemampuan yang cukup, ekspos tentang “kesusahan” sedikit banyak meningkatkan perolehan “suara”nya.
Ternyata kejadian itu tidak hanya di ranah hiburan saja, akan tetapi sudah merambah ke dunia politik. Mari kita flasback sejarah perpolitikan kita. Saat orde baru bagaimana bu Lastri dikuyo-kuyo oleh penguasa.
Setelah sang lurah orba jatuh perolehan suara partainya bu lastri naik begitu tajam bahkan mengalahkan partai nya penguasa. Pada perjalanannya perolehan partai kebo giro itu terus melorot dan merosot.
Selanjutnya kawan tentu masih ingat bagaimana pak Yono di beritakan terus menerus mendapat “pendzaliman” dari bu Lastri dan suaminya yang saat itu berkuasa, hingga mundur dari jabatannya, kepala satpam. Kemudian pak Yono ikut pilihan lurah dan menang di tahun 2004.
Dan pak Yono mungkin tahu benar karakteristik pemilih, sehingga saat kampanye untuk pencalonannya yang ke 2, pak Yono mengemukakan kalau dia dikeroyok oleh kompetitornya, mengeluh kalau dihantam oleh 2 calon lain.
Selain mempunyai sifak iba alias mesakne, karakter orang kita tidak suka sama orang yang ambisi. Pemilih lebih seneng melihat calon yang kalem dan tidak ambisi padahal sebenarnya menyimpan ambisi.
Bukankah sifat begitu lebih membahayakan ? pura-pura menyimpan dalam-dalam ambisi, dan menampilkan sosok tenang.


Aku membangun rumahku dengan langkah, sejauh aku melangkah sejauh itu pula rumahku didirikan, tembok kepedulian aku bangun dengan rasa, transparan dan imajiner. karena aku adalah bagian dari mereka dan mereka sebenarnya adalah aku.
Matahari masih bersinar malu saat aku duduk disebuah kursi yang berada di kebun belakang rumah. Kursi kayu jati yang kira kira umurnya seusia denganku, daun pohon pisang menari mengikuti irama semilir angin, dan dahan kelapa bergoyang oleh jejak kaki tupai yang berlarian.












