Gerbang Waktu

Pernahkah kawan-kawan menemui suatu tempat dengan kondisi yang sangat berbeda dan berlawanan padahal tempat itu sangat berdekatan bahkan bisa dikatakan berdempetan ?

Mungkin ada yang pernah menemukan kasus demikian,  kali ini kawan saya bercerita tentang suatu tempat disuatu kota yang penuh dengan kebisingan dan tingkat stress yang tinggi.  Kawan saya ini tinggal dikawasan yang cukup padat tapi tidak kumuh, biasa-biasa saja meski dengan banyak jalan kecil dan gang senggol, yah karena jika ada 2 orang yang berlawanan arah salah satu orang harus mengalah karena jika tetap memaksakan maka akan bersenggolan, tentu bagi perempuan ( ah baiknya menggunakan kata wanita atau perempuan yah ?) itu sangat tidak nyaman, tetapi sebaliknya sebagian pria malah mengharap senggolan hehehehehe.

digang itu memang banyak pendatang yang tinggal , penduduk asli seolah-olah hanya menyediakan “tempat” bagi para pendatang saja,  Kawan-kawan sering nyeletuk “orang -orang X memang kalau sudah punya kost sudah puas, tidak pernah ingin maju lagi. Cuma nunggu setoran tiap bulan,tiap pagi kerjaannya ngopi dan nongkrong, bahkan untuk sekolah  saja malas” . Sedangkan penduduk asli yang tidak punya kost rata-rata  hanya jadi tukang parkir atau kerja lain dijalan karena ijasah mereka rendah, SMA saja sudah sangat tinggi, apalagi anak cewek. “ngapain tinggi-tinggi  bentar lagi juga kawin, ngurus anak” begitu katanya.

Dengan penghasilan yang pas-pasan dari kerja serabutan dan dijalanan, mereka punya kebiasaan yang menjengkelkan, amat menjengkelkan yaitu mabuk dan main judi. damn…  makan saja susah malah buat mabuk dan judi. Maka kata temen saya ini jangan terlalu dekat dengan mereka, sewajarnya saja karena terlalu dekat mereka melonjak, minta duit untuk beli minum.

Entah ini efek dari semua atau hanya kebetulan, tingkat kriminalitas disana cukup tinggi, kawan saya ini pernah kehilangan sepatu, temannya disebelah bahkan kamarnya dibobol, hp dan dompetnya dibawa kabur. Di rumah sebelah lebih parah lagi, karena sedang pergi tugas  laptop dan TV  pun diangkut dan masih ada beberapa kejadian lagi yang tidak diceritakan.

Kawan saya ini bekerja pada sebuah perusahaan swasta nasional dengan posisi yang cukup baik, yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal lebih tepat disebut kostnya. Cukup jalan tidak sampai 5 menit sudah sampai, biar irit  pengeluaran, gak perlu tambah ongkos perjalanan dan biar tidak tua di jalan yang tiap hari macet begitu katanya. Dikantor hampir semua mengutamakan egonya masing-masing, saling jegal dengan berbagai intrik, semua dipaksa untuk mempertahankan posisinya, sehingga para atasan tidak sempat memikirkan kesejahteraan anak buahnya, manajemen konflik yang sengaja diciptakan begitu desas-desusnya. Tetapi sampai saat ini kawan saya masih bertahan, mau menaklukkan tantangan disini dulu begitu katanya.

Setiap istirahat kawan saya ini makan di warung makan dibelakang kantor, meski jalannya lebih sulit  dan  jauh dia lebih suka  untuk memilih makan disana, padahal sebenarnya ada kantin yang lebih nyaman dan enak yang sudah disediakan. Kenapa begitu ?  gw dapat suasana yang berbeda disana begitu katanya.  Seolah-olah gw berada pada titik lain dikota ini, orang-orang sekitar yang ramah dan suka tersenyum. Satu lagi yang paling bikin gw seneng  saat makan siang gw denger suara adzan dan orang-orang tua dan anak-anak pada ke musholla, hati terasa nyes gitu, seperti dicharge lagi, meski gw ga religius-religius amat dan  gw ga ke musholla itu  paparnya lagi.

Lebih terasa di titik dunia lain kalau sore menjelang senja,  gw biasanya ngopi dulu sebelum lanjut kerja sampai malem.  Sore sekitar jam 5 anak-anak pada pulang ngaji dimusholla kemudian sebentar lagi terdengar adzan maghrib orang  berduyun-duyun mendatangi suara adzan. gw bener-bener merasa didunia belahan lain, beda banget ketika disebelahnya yang nota bene kantor dan kost gw sambungnya.  Gw seolah-olah melewati gerbang-gerbang waktu yang membuat gw terlempar kedimensi – dimensi lain katanya.

Begitulah cerita kawan saya tentang pengalamannya, bagaimana dengan pengalaman kawan-kawan ?

 

Siapa Aku ?

Dalam Perjalanan hidup kadang terbersit dalam benak kita untuk mempertanyakan diri sendiri, kelihatannya sangat aneh karena tak mengenali diri. Akan tetapi itu adalah pertanyaan dasar yang akan membawa kearah mana kita akan melangkah.

Tentu kawan sangat kenal dengan kalimat ” Aku adalah apa yang aku pikirkan”  atau “Aku berpikir maka aku ada”  bagi sebagian orang kalimat ini mungkin memberi jawaban, tapi serasa masih ada yang mengganjal. Jadi siapa yang berpikir , jika aku adalah buah pikiran ? apakah sebelum berpikir aku tidak ada? atau siapakah yang memerintahkan untuk berpikir ? ah ataukah ada makhluk kecil dalam otak yang memerintahkan untuk berpikir ?

Adalagi seorang yang mengatakan “Aku adalah apa yang aku beli” atau “Aku adalah apa yang aku pakai” tentu kawan mahfum dengan kalimat ini, para jamaah konsumerisme dan korban mode / lifestyle adalah penggagasnya. Mango, Prada atau zara melekat dari bawah sampai atas.

Pada golongan lain ada yang berpendapat “aku” adalah ruh, yang telah mengadakan perjanjian dengan Tuhan sebelum lahir ke dunia ini. Sehingga ruh kita sebenarnya terkoneksi dengan ruh sang maha agung yang imbasnya sebenarnya kita punya sifat mulia dari sang maha agung.

Pada baris penutup saya mengutip sebuah kalimat : ” Kenali diri (sejati) mu , maka kamu akan mengenal Tuhanmu”.  Kenal diri adalah kunci mengenal tuhan, karena ruh tuhan ada dalam “diri” kita. Sebagaimana sebuah kalimat yang sangat terkenal dalam area sufisme “Manunggaling Kawula Gusti”.

Absurd

Lama tak kemana-mana menjenuhkan juga, hanya sibuk dengan rutinitas membuat hati dan pikiran tak peka. Lambat memberikan response,terbelenggu dan terkungkung dalam kehidupan yang semakin absurd.

Kembali diturunkannya ransel hitamnya, diisi dengan beberapa kaos oblong dan tak ketinggalan kain sarung. Dikenakannya celana panjang berwarna biru washing atau lebih dikenal dengan belel.

Kaos hitam kesukaannya tak lupa dikenakan dan dibalut dengan jaket yang berwarna hitam juga, kaos kaki biru dongker dan sepatu hitam tak lupa dipakainya. Semua serba gelap, mungkin ikut berduka atas kekisruhan yang melanda negeri ini.

Bukan hanya kekacauan ditingkat rakyat bawah saja dengan seringnya tawuran antar warga dan antar suku, bahkan sekarang antar lembaga negara yang nota bene penegak hukum saling memangsa, saling gigit demi kekuasaan. Rakyat hanya menonton saja, tapi mungkin  pepatah gajah bertarung pelandung mati ditengah-tengah berlaku.

Dicangklongnya ransel hitam itu dipundak kanan, diayunkan langkahnya menuju jalan raya, penat dan suntuk ingin diusirnya dengan pergi ke batas kota untuk melihat sawah dan sungai serta berkunjung kerumah seorang kawan. Aroma alam selalu menyegarkan dan mengusir kepenatan.

Continue reading

Gelaran

Mengingat dan memahami ajaran/kebudayaan serta kearifan lokal akan membuat kita tidak saja menjadi penjaga nilai, tetapi juga akan menjadi nilai plus (manusia unggul) dalam mengarungi samudera kehidupan.

Berikut disajikan nilai ajaran dari leluhur, semoga saja bisa bermanfaat, dan maaf jika ada tafsir yang tidak pas atau tidak berkenan, Sumonggo dinikmati.

*gelar tikar, sediakan kopi , teh, pisang goreng dan rokok*

SUGIH TANPO BONDO
Kaya Walaupun Tidak Memiliki Harta
Gambaran seseorang yang hidup sejahtera walaupun tidak memiliki harta melimpah. Karena kebaikannya terhadap sesama, karena besar jasanya kepada orang lain, maka setiap menghadapi kesulitan, tanpa meminta bantuan kepada siapapun, sudah ada yang menolong. Tidak ada masalah yang tidak dapat di selesaikan, cerdas, pandai dan bijaksana.

DIGDOYO TANPO AJI
Sakti Mandraguna Walaupun Tanpa Senjata
Gambaran seseorang yang sangat kuat, sentosa. Sakti lahir atau fisiknya karena berbadan sehat, sakti badannya karena kepada Tuhan selalu dekat

NGELURUG TANPO BOLO
Menyerang tanpa membawa kawan / pasukan
Gambaran seseorang yang sangat pemberani. kepada siapapun (Kecuali Tuhan) tidak takut. Karena tidak pernah berniat jahat dan tidak pernah berbuat jahat, tidak punya musuh, karena semua orang dianggap teman

MENANG TANPO NGAROSAKE
Menang tanpa mengalahkan/merendahkan
Gambaran seseorang yang sangat pandai dalam menyelesaikan perbedaan pendapat atau konflik, tetapi, karena sangat bijaksana, dalam menyelesaikan konflik tadi, lawannya tidak merasa kalah, tidak dipermalukan, tidak kehilangan harga diri

PERANG TANPO TANDING
Perang tanpa berkelahi, dalam artian memerangi nafsu diri sebagai jihadu akbar ( jihad besar). Tidak pernah berdebat, bertengkar atau tidak ada yang menandingi cara kerja dan hasil kerja daripada mereka ini.

MULYO TANPO PUNGGOWO
Dimulyakan, disambut, dihargai, diberi hadiah, diperhatikan, walaupun mereka sebelumnya bukan orang alim ulama, bukan pejabat, bukan sarjana ahli tetapi memiliki perilaku yang unggul.

Kisah Kasih

Setelah muhammad SAW meninggal, abu bakar RA sahabat dan khalifah yang sangat dekat dengan beliau mendatangi rumah aisyah.

Abu Bakar menanyakan kebiasaan Rosulullah SAW yg belum dilakukannya.

Kemudian Aisyah menceritakan 1 kebiasaan yang selalu dikerjakan oleh Rosulullah setiap pagi, yaitu Beliau berjalan dan memberi makan pengemis tua dan buta yang duduk di perempatan jalan.

Keesokan harinya Abu bakar menemui pengemis itu diperempatan jalan, beliau menghampiri kemudian mendekati dan duduk sebelahnya. Sayyidina Abu Bakar RA kemudian memotong kecil-kecil roti yang dibawanya dan menyuapi pengemis itu, pengemis itu menolak suapan roti dari abu bakar dan berkata :” engkau pasti bukan orang yang biasa menyuapiku”,

“dia biasa memamah (menghaluskan) roti sebelum menyuapiku, dan sikapnya lebih lembut darimu”. Lanjut pengemis itu.

Continue reading

Selamat Jalan Willy

Telah Berpulang  WS Rendra Kamis 06-agustus-2009

Seniman besar dan terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini.

Meski kau telah tiada, karyamu tetap memenuhi rongga hati dan jiwa kami.

Willy
Iwan Fals ( Album Ethiopia 1986 )


Si anjing liar dari Jogjakarta
Apa kabarmu ?
Kurindu gonggongmu
Yang keras hantam cadas

Si kuda binal dari Jogjakarta
Sehatkah dirimu ?
Kurindu ringkikmu
Yang genit memaki onar

Dimana kini kau berada ?
Tetapkah nyaring suaramu ?

Si mata elang dari Jogjakarta
Resahkah kamu ?
Kurindu sorot matamu
Yang tajam belah malam

Dimana runcing kokoh paruhmu ?
Tetapkah angkuhmu hadang keruh ?

Masih sukakah kau mendengar ?
Dengus nafas saudara kita yang terkapar
Masih sukakah kau melihat ?
Butir keringat kaum (orang) kecil yang terjerat
Oleh slogan slogan manis sang hati laknat
Oleh janji janji muluk tanpa bukti

Dimana kini kau berada ?
Tetapkah nyaring suaramu ?
Dimana runcing kokoh paruhmu ?
Tetapkah angkuhmu hadang keruh ?

Falsafah HANACARA (Carakan/Huruf Jawa)

Oleh-oleh Ngangsu Kawruh dari Ustadz Chodjim ;Penulis buku “Syekh Siti Jenar : Makna Kematian”, “Mistik dan Makrifat Sunan Kalijaga”, “Membangun Surga” dan lain lain.

Carakan harus dibaca sebagaimana kita membaca “Candra Sengkala” dibaca dari baris paling belakang , yaitu dimulai dari “Maga Bathanga”.

Ma-Ga-Ba-Tha-Nga (Maga mbathang) = Menempuh jalan kematian (nafsu) sebelum mengalami kematian fisik atau kematian yang kita mengerti dalam hukum biologi.
Perlu diketahui bahwa kata “maga” adalah kata Jawa Kuna yang berarti “musim”, atau sebutan bagi bulan ketujuh (11 Januari – 11 Februari). Dus, maga mbathang adalah pengkondisian diri untuk menjalani hidup semedi yang sebenarnya. Inilah kondisi untuk menghilangkan “dualitas” dalam persepsi kehidupan ini.

Pa-dha ja-ya-nya = kekuatan dalam diri manusia dan di luarnya telah menyatu padu. Dalam bahasa daratan Cina, Yin dan Yang telah jumbuh menjadi satu sehingga tak bisa lagi diekstrak unsur-unsurnya.

Dha-ta sa-wa-la = tiada lagi pertentangan antara unsur luar dan dalam, tiada lagi pertentangan unsur Yin dan Yang.
Perlu diketahui bahwa dhata ialah kosa kata Jawa Kuna yang searti dengan dhatan yang maknanya “tanpa” atau “tiada”. Sedangkan “sawala” bermakna pertentangan, pertikaian, atau perkosaan.

Ha-na ca-ra-ka = muncullah caraka, atau lahirlah pesan atau kreasi.
Dus, lahirnya alam semesta ini ya adanya proses Hanacaraka pada Sang Hidup atau Hyang Urip. Terjadinya kreasi dalam kehidupan ini ya karena adanya manusia-manusia yang menjalani proses Hanacaraka. Selama kita tidak mau menjalankan proses “mbathang” atau mematikan ego, maka selamanya tak akan ada kreasi.

Dari Sumber yang lain carakan diterjemahkan sebagai berikut :

Continue reading